Dua bulan sepeninggalan Michi, Geya bagaikan manusia abnormal yang dihantui oleh kegagalan. Kegagalan mempertahankan buah hatinya, sekaligus kegagalan mempertahankan profesinya. Ia memilih untuk menerimanya.
“Mungkin mengerti akan keadaan yang ada tanpa harus bertanya-tanya ‘kenapa harus aku’ akan lebih baik… Pertanyaan tidak membawa orang mati untuk hidup kembali, pertanyaan akan berujung kepada penyalahan kepada takdir, dan itu berarti aku akan melawan Tuhan…” kata Geya dalam hati. Dan ia tidak mau melawan Tuhan. Sepahit getirnya hubungannya dengan Tuhan, Geya tetap memilih untuk takut pada-Nya.
Dua bulan waktu ia untuk menjadi sadar, sendiri.
Lalu, Titus? Suaminya yang awalnya memotivasi dirinya sekarang pun sudah kehilangan bahan bakar untuk menyuluti semangatnya.
“Aku bangun keluargaku kembali, aku harus bawa Titus untuk menerima diriku lagi…” tekadnya. Separuh dirinya merasa bersalah tidak memperdulikan Titus selama ini dalam masa berkabungnya, namun separuh dirinyapun tak mampu mengikuti apa yang menjadi keinginan Titus.
“Kita bisa memiliki anak lagi, Ma…”
Geya menggeleng-geleng pelan dengan tatapan kosong. Awalnya Titus tetap bersabar, namun selalu berakhir pada bentakan dari Titus yang tak tahan melihat kebisuannya.
“Sampai kapan Mama akan begini hah??!”
Geya pun kembali menangis pada saat seperti itu.
“Kamu mau hidup sendiri terus ya sudah sana!” kalimat Titus berlanjut kali ini.
“Aku… hanya tidak mau melupakan Michi begitu cepat,” sahut Geya pelan dan masih terus terisak.
“Aku bukan meminta Mama untuk lupa sama Michi! Aku juga tidak mungkin lupa!” Titus semakin gusar.
Geya pun sadar akan hal itu. Memang bukan itu yang Titus minta.
“Aku belum sanggup untuk bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, Pa… Maaf… aku hanya perlu waktu…”
“Sampai kapannnn!!??” Titus menyelanya lagi.
“Aku tidak tahu, Pa…” ujar Geya menyerah.
Akal logikanya berseru agar dirinya tidak terseret arus kesedihan, namun hatinya tak mampu. Bayangan Michi begitu melekat, Geya pun seakan tak rela melepaskan.
“Kamu tidak pernah ingin mendapat Michi kedua??!”
Geya kembali terdiam. Bahkan saat ia dipaksa untuk berbaring pun Geya hanya bagaikan patung, sehingga menyurutkan Titus untuk menyentuhnya.
“Aku bingung… Yang jelas aku tidak mau memiliki anak dengan ibu seorang patung…” Titus pun pergi dan membiarkan dirinya tidur sendiri kembali.
Kali ini, Geya berniat merenggut rasa itu kembali. Sudah letih ia berlelah dengan rasa capai hati. Sudah letih ia sehingga lupa akan rasa sedih. Yang ada sekarang adalah hampa. Hampa yang harus diisinya kembali.
*
Tiga minggu ini, Geya bagaikan parasit. Menguntit langkah Titus. Satu hal yang tak disukainya, namun entah rasa penasaran mendera akan Titus yang benar-benar ‘menyerah’ untuk bersamanya. Bila dua bulan lalu Titus yang mengejar-ngejar dirinya agar kembali padanya, kini terjadi sebaliknya.
Tiga minggu ini, Geya bagaikan parasit, satu hal yang sebenarnya tidak disukainya. Selama perkawinannya, tak pernah sekalipun ia mendapati sesuatu yang harus membuat ia curiga, kecuali sekarang. Tiga minggu ini, Titus selalu pulang hampir menjelang pagi. Sehabis praktik sudah tak nampak tubuhnya. Alasan beragam. Dari meeting, operasi, kontrol.
“Menyibukkan dirikah? Kesepiankah?” tanya Geya kepada dirinya sendiri. Bingung sekaligus merasa bersalah karena memang selama ini Titus bagaikan seorang diri berusaha bersemangat untuk hidup kembali tanpa Michi.
Geya memasuki koridor rumah sakit dengan langkah perlahan. Ia berusaha agar Titus tak menyadari keberadaannya. Dilihat sekeliling lingkungan rumah sakit yang sedikit membawa kerinduan akan dirinya pada profesinya, namun kemudian ia menyadari bahwa sekarang ia harus puas dengan hanya menyandang sebagai istri seorang dokter saja.
Hari masih sangat pagi. Biasanya Titus selalu berangkat terlambat jika harus praktik pagi. Namun belakangan ini diperhatikan oleh Geya jika suaminya itu sering berangkat kepagian. Dipahaminya betul bila Titus bukan orang yang betah menunggu waktu senggang di ruang praktiknya.
Langkah Geya menjadi perlahan dan akhirnya berhenti di muka pintu ruangan praktik Titus di rumah sakit. Ditarik nafasnya untuk mempersiapkan diri menyapa Titus. Mudah-mudahan kebekuan mereka mencair, dan Titus dapat melihat niatnya untuk segera menjadi keluarga yang normal. Diketuknya perlahan pintu yang dihiasi plang nama suaminya, dr Titus Winoto. Sunyi… tak ada suara memanggilnya masuk. Suasana masih terlalu pagi sehingga keheningan tambah terasa.
“Papa…” ketuk Geya sekali lagi dan memanggil perlahan.
Tetap tak terdengar langkah atau suara di dalam. Refleks tangan Geya menekan gagang pintu yang ternyata…
“Tidak dikunci…” gumam Geya bingung. Berarti Titus sudah berada di dalam. Dibukanya pintu itu sedikit, dilongokkan kepalanya ke dalam,
“Papa…?” panggilnya pelan. Tak ada orang yang duduk di meja kerja ruang praktik itu. Geya memutuskan diri untuk masuk. Terlihat olehnya jaket putih milik Titus yang tergeletak di atas meja.
“Berarti ia sudah di sini tadi, mungkin lagi ada urusan sebentar…” duga Geya.
Diambilnya jaket putih itu dengan maksud ingin dirapihkannya.
“Prakkkk…!” suara barang terjatuh kibasan jaket putih yang menyeret barang itu. Sebuah ponsel jatuh. Geya mengenal ponsel itu. Ya… milik Titus. Diambilnya ponsel hitam itu, ternyata layar yang muncul adalah dalam posisi sms yang dapat dibacanya. Berarti Titus sepertinya meninggalkan ruangan praktiknya tanpa sempat mengembalikan ponsel ke menu utama, dan membiarkan tergeletak begitu saja. Geya memandang layar itu dan berkenyit. Ia tak mengenal nama pengirim sms yang setelah diperiksanya ternyata belum lama masuk di ponsel Titus.
“Aku sudah di atas loh… Kalau nyampe langsung aja ya,” bunyi sms itu.
Tak ada nama, hanya keluar nomor ponsel seseorang. Berarti nomor yang tidak disimpan dalam ponsel itu. Geya akhirnya duduk di bangku Titus, penasaran. Dilacaknya beberapa sms sebelumnya yang ada secara cepat.
“Belum tidur?? Jangan kemalaman, nanti sakit loh… Aku tidur dulu ya, sayang” Geya tertumbuk pada sms yang bernomor sama lagi yang ada di memori ponsel itu. Jantungnya mulai berdetak kencang. Tangannya mulai keringatan. Geya mulai mencoba untuk mencari-cari lagi. Ternyata hanya itu sms yang membuatnya penasaran. Ia tahu betul Titus tidak suka ber-sms, jadi dipahaminya bila memori sms hanya sedikit di ponselnya, itupun pesan-pesan dari provider yang malas dihapusnya.
Geya tercekat memandang nomor asing itu.
“Ia pasti hafal di luar kepala bila nomor itu tidak disimpan di HP” duga Geya. Sms yang hanya singkat namun terlihat akrab itu seperti menunjukkan bila Titus lebih sering berkomunikasi langsung dibandingkan menggunakan sms.
Selama ini ia sangat percaya Titus, haruskah sekarang ia curiga? Selama ini ia menganggap Titus setia padanya dan mau memahami kesakitannya, haruskah sekarang ia mulai meragukan Titus?? Ditariknya nafas dalam-dalam. Kepalanya berkecamuk dengan sejuta tanya dan rasa penasaran.
“Ah… mungkin hanya rekan kerja…” lawan Geya dalam hati.
“Tetapi ada kata sayang…” katanya lagi sambil memandang isi sms tadi. Geya hanya ingin tahu siapa orang tersebut agar ia tidak harus menduga yang jelek tentang Titus. Diharapkannya itu hanya gurauan dari seseorang yang dikenalnya juga, sekaligus mengenal Titus.
Ragu-ragu dipencet oleh Geya tombol panggilan ke nomor itu. Didengarkannya suara panggilan mulai masuk ke nomor asing itu. Hanya terdengar ring back tone yang diulang-ulang dan akhirnya habis begitu saja tanpa diangkat. Geya semakin penasaran. Dihubunginya kembali nomor tadi. Belum sempat habis nada sambung itu Geya langsung dikejutkan oleh dobrakan pintu ruang praktik Titus… Tak urung Geya hampir melompat dari bangkunya, ponsel yang digenggamnya sampai terlempar dan jatuh ke bawah. Di tengah keterkejutannya yang amat sangat, dipandang wajah yang mendobrak pintu tadi,
“Titus!” jantungnya semakin berdebar kencang. Terdiam hanya memandang wajah Titus yang juga terkejut melihat Geya yang sedang duduk di ruangannya.
“Kamu…” Titus tak menyelesaikan kalimatnya.
“HP-mu ketinggalan…” ujar Geya sedikit cemas.
Ponsel Titus diambil kembali oleh Geya dan diserahkannya ke Titus. Titus meraih ponsel itu dengan perlahan dan masih memandang Geya dengan tatapan cemas juga.
“Kenapa kamu, Ma?” tanya Titus akhirnya.
“Aku… aku… hanya… ahhhh… sudahlah! Siapa nomor yang aku telepon tadi?” Geya lebih mementingkan untuk mengetahui nomor misterius itu daripada tujuannya datang kali itu. Titus tak menghiraukan pertanyaannya, ia segera mengenakan jaket putihnya dan berusaha membereskan mejanya. Geya hanya membisu memandang kekakuan Titus.
“Pa… siapa…?” tanya Geya lagi.
“Sudahlah, Ma… Gak penting… Aku lagi ada urusan di atas dengan teman…” jawab Titus pendek.
Melihat Titus hanya bersikap dingin, Geya segera mendekati Titus. Didekapnya Titus dengan erat, direbahkan wajahnya ke pundak Titus. Namun reaksi refleks dari Titus yang terkejut dirasakan oleh Geya. Ia merasa tubuhnya ditolak begitu saja oleh dorongan dari Titus walaupun hanya pelan.
Geya terkejut. Tak disangka sama sekali Titus seakan berusaha melepaskan tubuh darinya. Titus hanya memandang Geya dengan sedikit bersalah.
“Maaf…” ujar Titus pendek. Geya tercekat. Keduanya diam sesaat dan kemudian dikejutkan oleh suara seorang wanita yang tiba-tiba masuk dan bertanya,
“HP-mu ada di meja kan??”
Wanita itu pun terkejut melihat Geya yang berdiri di samping Titus.
Ketiganya terdiam dan saling berpandangan. Tidak berapa lama wanita itu berusaha mencairkan suasana,
“Dokter? Dia…?”
“Istriku, Geya kenalin… Ini suster Citra, jururawat di sini,” ujar Titus seakan tak terjadi apa-apa. Tangan wanita bernama Citra itu terulur ke arah Geya. Geya menyambutnya dengan enggan.
“Geya,”
“Citra,” balas wanita yang terlihat masih sangat muda, berkulit bersih, berwajah manis. Geya membandingkan dirinya yang saat ini kelihatan kuyu dengan wajah sedih dan sepinya.
“Oh… Ibu yang tadi telepon ke HP saya ya berarti…” simpul Citra.
“Berarti suster yang SMS ke suami saya?” tanya Geya tanpa ragu.
Citra hanya diam saja, matanya terlihat memandang ke arah Titus yang sempat mencuri pandang kepada Citra.
“Kalian…?? Sedang apa kalian pagi-pagi begini…?” kali ini Geya tak mampu menahan diri untuk mengorek keterangan. Melihat gelagat keduanya seakan menyembunyikan sesuatu, Geya menjadi gusar.
“Ada pasien yang perlu perawatan khusus di atas, jadi kami harus datang pagi-pagi,” jawab Titus dengan cepat.
“Lalu apa hubungannya dia sampai bisa ngomong kata sayang denganmu?” pandangan tajam Geya menuju ke Titus.
“Maksud Mama?” tanya Titus bingung.
“Aku baca semua sms di HP, dia memanggil kamu ‘sayang’,”jawab Geya sambil merebut ponsel Titus dan ditunjukkan sms itu ke arah Titus.
“Kamu…!” Titus segera merebut ponselnya.
Geya memandang kepada Citra.
Citra terdiam dan hanya memandang nanar ke arah Geya. Ketiganya hanya saling berpandang-pandangan.
“Sudahlah, Ma… kamu pulang saja dulu,” Titus menghampiri Geya pada akhirnya. Geya menampik ajakan Titus.
“Tidak! Sebelum aku dijelaskan, apa hubunganmu dengan dia?”
“Tidak ada apa-apa…” Titus menjawab pelan dan berusaha menggiring Geya keluar ruangan.
“Bohong!”
“Geya! Sudahlah… selama ini aku juga tidak mengusik hidupmu kan… Tolong jangan tiba-tiba kamu sekarang ingin merenggut aku untuk hidup dalam dunia kamu,” Titus memperbesar volume suaranya. Geya limbung.
Ternyata waktu dua bulan untuknya merenungi nasib malangnya dibalas dengan pengkhianatan. Tak sanggupkah Titus membiarkan dirinya untuk beristirahat mengatur langkahnya kembali, mengapa ia serasa ditinggalkan jauh walaupun baru dua bulan mereka menerima derita yang berat.
“Brengsek kau, Pa! Aku hanya minta waktu untuk diam! Bukan waktu untuk ditinggal!!” protes Geya, wajahnya memerah seakan darah mendidih dan siap mengepul untuk dimuntahkan.
Melihat perdebatan yang mulai meninggi tensinya, Citra menghambur ke luar ruangan. Ia berlari-lari kecil dan menjauh. Hanya mereka berdua, diwarnai tangisan pelan Geya dan sekali-kali terdengar suara erangan kemarahan dari Geya.
“Mama…, sssttt… sudahlah…,” Titus berusaha meredam deraian air mata yang mulai deras. Mereka terdiam lagi…
“Papa minta maaf…” hanya itu saja kalimat yang dikatakan Titus sembari menunggu Geya tenang. Sebisa mungkin Geya mengendalikan diri untuk tidak mengacau, ia menyadari jika mereka di tempat umum yang dapat mempermalukan mereka berdua bila dilihat sejawat mereka.
“Kenapa…??” tanya Geya berbisik dan memandang Titus dalam-dalam.
Titus menunduk. Kebisuan kembali merebak.
“Kenapa…??!” kali ini Geya menggoncang-goncangkan tubuh Titus, dibiarkan oleh Titus gerakan dari Geya. Ia tidak akan melawan tubuh lemah Geya.
“Aku merasa memang kita tidak akan bisa bersama lagi, kamu terlalu tenggelam dalam hidupmu sendiri…” jawab Titus.
“Hanya dua bulan kita begitu… Bukan berarti selamanya aku akan seperti itu,” bela Geya.
“Aku mau punya anak lagi,” kata Titus lagi.
Geya terdiam, untuk hal yang ini ia tak mampu beragumentasi.
“Pasti… Itu hanya tunggu waktu, tapi bukan berarti kau mencari anak dari wanita lain…”
“Waktumu yang tidak bisa aku terima,” Titus mengeluh.
“Berarti kamu memutuskan untuk tidak mencintai aku lagi, tidak mau menerima kelemahanku lagi…?”
“Mengapa kamu bilang begitu?” tanya Titus bingung.
“Kau gila??!! Kau tidak tahu apa yang kau buat sekarang?? Kau langsung memutuskan untuk mencari orang lain yang menuruti maumu… Itu artinya kau tidak mencintai aku lagi!!” sahut Geya sambil membelalakan mata.
“Oh…”
Geya gemas melihat Titus yang malas-malasan meladeninya.
“Kamu kok santai begitu sih??! Kamu anggap semua ini wajar? Kamu betul tidak mencintai aku lagi hanya gara-gara aku belum siap punya anak lagi?!” tanya Geya kebingungan.
“Ini bukan soal cinta, Ma… Aku juga perlu penghiburan, dan itu tidak aku dapatkan dari Mama… Aku tidak sanggup melihat Mama memendam perih begitu, tetapi aku juga tidak bisa menerima menghadapi semua ini sendiri,” jawab Titus.
Geya melihat kebimbangan sekaligus keegoisan yang selalu diusung Titus. Bimbang karena tak memiliki pegangan, egois karena keharusan untuk memilih hal yang harus membuat ia senang walaupun bukan atas nama cinta.
“Kami berdua memilih untuk melampiaskan sedih dengan cara sendiri…” keluh Geya dalam hati, namun Geya mengalah!
“Semua masih dapat diobati… semua sakit hati kita, semua kesalahan kita, keegoisan kita… Kamu mau ‘kan kalau sekarang kita jalani lagi semuanya dari awal? Sama-sama berjanji untuk saling menguatkan…, ya..?” Geya membujuk Titus. Tak ada gunanya ia ngotot, tak ada gunanya ia memojokkan Titus, kesakitan ini masih lebih baik daripada ia harus kehilangan Michi dan Titus bersamaan.
“Ma…, tapi…” Titus berucap ragu. Terdiam lagi seakan kebingungan.
“Sudahlah… Kita bisa mengulang dari awal, aku akui sejak Michi pergi, hidup kita seakan kosong, kehilangan pijakan… Aku jadi mengerti kenapa kamu ingin punya anak lagi…” Geya bertutur untuk mencoba menetralisir perasaannya sendiri.
“Maaf…, Ma…” Titus memandang wajah Geya dalam-dalam.
“Sudahlah…, semua juga bisa khilaf…” Geya enggan mengungkit semuanya lagi.
“Bukan itu… ajakan Mama sepertinya terlambat…” kata Titus pelan.
“Terlambat?? Pa… tidak pernah ada kata…” belum sempat diselesaikan kalimatnya, Titus sudah menggeleng-gelengkan kepala… Geya bingung…
“Citra hamil…” desis Titus pelan.
Geya pun akhirnya benar-benar terdiam. Matanya berkaca, kegelapan pun menutup bola matanya seiring lunglainya semua sendi –sendi yang menahan tubuhnya.
*
Geya meluncur dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kosong, tatapannya masih terus kabur oleh cucuran asinnya air mata yang sekali-kali diseka dengan tangannya. Hatinya serasa ingin pecah, tangannya bergetar memegang kendali mobilnya.
Ia hanya ingin pulang… pulang… dan pulang entah ke mana… Sudah tak ada rumah baginya… Sudah tak ada lagi miliknya yang dipertahankan… Kota Lampung sudah ditinggalkannya. Geya melaju kencang menuju arah luar kota dengan pikiran kalutnya.
Alam bawah sadarnya yang menuntunnya menghadapi kelokan-kelokan jalan raya, menghindari bis-bis, menyalip truk-truk, sampai akhirnya ia tak sanggup menguasai antara jarak dan kecepatan… Matanya gelap seketika, teriakannya membahana akibat menahan kesakitan kakinya yang terhimpit… dan Geya pun pingsan… Tubuhnya terjepit akibat terjatuh ke tepian jalan yang agak curam, tidak jauh dari jalan desa Tulung Harapan, Sumatera Selatan.
Tags: novel, sang penyembuh




September 11th, 2009 at 4:41 pm
terima kasih atas informasinya……