Dokter wanita yang harus berkutat dengan ujian profesinya yang bertubi-tubi. Dimulai dari meninggalnya buah hati satu-satunya, masalah dalam keluarga, dicabut surat izin praktiknya membuat dr. Geya berpikir apakah memang ilmu pengetahuan yang dengan gigih dipelajarinya sudah tak dapat menolong sekitarnya.
Perjalanan pemberontakan jiwanya yang ternyata terus berkasihan kepada mereka yang butuh pertolongan membuat ia berkelana sampai harus menjadi tim relawan dan pasukan PBB hanya untuk menemukan kembali ruh penyembuh dalam dirinya.
Catatan
Di blog ini hanya akan dibuat serial sampai bab tiga saja ![]()
Seterusnya akan dimuat dalam bentuk e-book, biar tidak capek bacanya…
Kenapa tidak langsung e-book sekalian?? Ya emang karena belum kelar semua dan belum layout (cover-nya aja masih bingung hihihihi…)
Sembari menunggu saya bingung, ya baca pendahuluannya saja, kalau penasaran kan tinggal download nanti, kalau ternyata jauh dari harapan ya ndak udah repot download toh hehehe…
SANG PENYEMBUH
BAB I
Suratan Takdir Pertama
“Mamaaaa… jangan kasih dokter lain yang suntik aku ya…,” bisik Michi dalam kelemahannya. Geya berusaha tidak menggulirkan air matanya walaupun di dalam jantungnya sudah terlalu berdebar. Inilah resiko jika salah diagnosa. Manusia terhebat dalam dunia kedokteran pun tak akan lepas dari lalai, tetapi kelalaian tanpa disengaja pun adalah resiko yang terlalu berat. Kematian. Dan kematian itu sedang menghampiri buah hatinya, anak satu-satunya yang berharga dalam hidupnya.
“Iya sayang… nanti Mama yang suntik kamu ya… kamu tidur saja ya sayang…” ujar Geya sambil merengkuh tangan mungil yang semakin menggigil. Michi pasti menahan rasa demam yang tak berkesudahan, hingga berapa kali tak sadar diri.
“Dokter…” ujar salah satu tim dokter yang memeriksa kondisi Michi sambil menyodorkan jarum suntik kepada Geya.
Geya hanya terdiam. Entah dia harus menuruti kemauan Michi, atau bersikeras untuk menyerahkan kepada tim medis yang turun tangan. Inilah saat-saat di mana ia membenci profesi kedokterannya, semua ilmu yang diketahuinya seakan membuka matanya terhadap kondisi Michi kelak. Ia benci akan semua resiko yang sudah diketahuinya. Ketakutan yang tidak pernah dirasakannya saat menangani pasien lainnya. Ingin ia menjadi orang awam yang berharap-harap kepada dokter dan Tuhan tanpa mengetahui seluk-beluk lainnya daripada harus mengetahui nasib yang akan diterimanya saat ini.
Sambil menenangkan diri, diambilnya jarum suntik yang sedianya ditujukan kepada Michi. Semua resep dan pengobatan adalah keputusan dari tim medis, ia hanya menyuntikkan Michi karena permintaan Michi. Ditarik nafasnya dalam-dalam dan mulai menancapkan dengan lembut jarum suntik ke kulit Michi. Reflek lemah akibat suntikan dari Michi dirasakan Geya. Dilihat wajah anaknya yang semakin melemah.
Kecemasan bercampur kepedihan.
“Mengapa harus terjadi dengan Michi?? Kamu ibunya, kamu dokter, kenapa kamu sampai tidak tahu gejalanya?!” tegur Titus, dokter yang juga adalah ayah dari anaknya, Michi. Geya hanya terdiam, seluruh tenaganya sudah letih harus terus bersitegang dengan Titus.
Seringkali Geya menjawab pertanyaan itu dengan kalimat,
“Jika seorang dokter dan juga sekaligus orang tua dapat menyelamatkan nyawa anak sendiri, mengapa tidak kau balik pertanyaan itu ke dirimu sendiri??”
Debat mulut pasangan dokter praktik di rumah sakit yang berlainan ini pada akhirnya selalu ditengahi oleh masing-masing pihak keluarga dan tim dokter.
“Dokter Titus, memang gejalanya berbeda dari yang biasanya, sehingga ada keterlambatan penanganan,” jelas dr. Sungkono, pemimpin tim dokter yang menangani Michi.
“Coba kalau saya yang mengatakan kalimat seperti dokter kepada anak dokter sendiri…! Apa dokter akan terima? Dokter juga pasti akan marah-marah seperti saya kan!” hardik Titus.
“Betul dokter Titus, semua tidak akan senang dalam kondisi begini. Kami minta maaf, mungkin ilmu terus berkembang tetapi kami terlalu sulit mengikutinya. Kasus ini menjadi satu pelajaran khusus untuk penyakit yang diderita Michi sehingga tidak terjadi kelalaian seperti ini lagi… kami minta maaf sekali lagi,” ujar dr. Sungkono.
“Tidak untuk anakku! Bagaimanapun dokter sudah lalai walaupun penyakit Michi tidak seperti gejala pada umumnya. Saya tetap tidak bisa terima dengan alasan perkembangan varian penyakit yang terlalu berbeda sehingga anak saya menjadi korban. Jika terjadi sesuatu saya akan tuntut dokter, itu sudah jelas!” ancam Titus.
Geya hanya memandang kosong wajah Titus yang membara, untuk mendengarnya pun sudah letih. Ucapan Titus sebenarnya sangat menusuk hatinya sebagai seorang medis. Jika Titus adalah seorang awam, mungkin Geya akan memahami. Tetapi memang semua dokter berharap menjadi seorang awam jika sudah menghadapi keluarganya yang sakit.
Demam berdarah, walaupun penyakit umum yang secara kasat mata dapat dideteksi, tetap ada kematian di antaranya. Tetap ada varian yang berbeda di setiap pasien. Jika ini terjadi dengan Michi, mungkin sudah takdir jika Michi harus seperti korban demam berdarah lainnya. Walaupun berorangtuakan dokter tetap tak mampu mengatasi keganasan sebuah penyakit jika sudah melampaui kuasa pengetahuan manusia.
“Harusnya kamu sadar Pa, tindakanmu seperti itu juga menjerumuskan aku,”
“Tetapi itu juga bukan berarti aku harus mengorbankan Michi untuk memahami Mama kan? Memahami profesi kita? Aku sadar kalau kita hanya manusia, kita bisa lalai, tapi sebagai orang tua, aku hanya tahu yang salah harus bertanggung jawab, walaupun sebagai dokter aku dapat memaafkan mereka,”
Untuk kalimat terakhir ini Geya tidak dapat membantah jika ia juga setuju, walaupun menjadi bumerang bagi dirinya, ya… bagi dirinya yang saat ini juga tengah dilanda kasus malpraktik terhadap satu pasien yang menuntutnya. Mungkin karena tidak dapat konsentrasi akibat Michi yang terbaring di rumah sakit, tetapi ia tetap harus bertanggung jawab apapun juga alasannya, sama seperti Titus yang menuntut dr. Sungkono.
Setelah bertentangan kembali mereka harus terduduk lemah di beranda ruangan tempat Michi dirawat. Serombongan keluarga yang setia bergiliran menjaga Michi yang walaupun letih serta cemas selalu saling menghibur memberi harapan terhadap kelangsungan hidup gadis kecil mereka, cucu pertama dalam keluarga, Michi. Sampai pada akhirnya mereka juga harus pasrah ketika reaksi Michi yang semakin memburuk pada hari kelima ia dirawat di sana.
“Maaaa….Maaaaa… sakittt…”erang Michi dalam igauannya.
“Sayang… kenapa?? Ini Mama sayang… Sabar ya… nanti sakitnya cepat hilang” bisik Geya lembut di telingi Michi. Walaupun dalam kondisi tidak sadar, Geya yakin telinga tetap berfungsi untuk mengantarkan suaranya ke otak Michi. Setidaknya Geya harus menguatkan Michi untuk tetap ada di dunia.
“Maaaa….Maaa… Mama di manaaa?? Maamaaaaa… Michi…Michi… mau pergi yaaaa…” sahut Michi pelan namun jelas, karena jarak telinga yang dekat dengan bibir Michi.
“Michi…jangan…Michi… Michi jangan pergi sendiri… Jangan tinggalin Mama ya… Michi… Michi…” jawab Geya dengan suara cemas, sesaat Michi terdiam setelah mengigau tadi. Pandangan Geya mengelilingi kerabat yang sudah melihat dari kejauhan, melihat dari jendela ruangan dengan pandangan kasihan, pandangan bingung dan pandangan khawatir.
“Maaaa…. Michi sudah dijemput, Maaa… Michi pergi sekolah ya…”
“Jangannnn Michi…! Tolong Michi, jangan pergi ya…” kini suaranya setengah berteriak, tangannya diguncangkan pelan ke tubuh Michi yang lemah itu. Geya tetap berhati-hati menggerakan tangannya ke tubuh Michi, sekaligus memastikan semua fungsi tubuh Michi masih baik dan masih kuat.
“Maaamaaaa… Maaaa…” panggil Michi sekali lagi.
“Apa sayang… Michi kenapa? Jangan pergi dulu ya…” entah mengapa Geya dapat mengatakan hal itu, ia merasa Michi berpamitan bukan hanya untuk ‘sekolah’.
“Maa…” Geya lega karena Michi masih tetap meresponnya.
“Iya sayang… kamu istirahat dulu ya, tidur saja… biar cepat sembuh ya…” hibur Geya kembali sambil mengusap buliran titik air mata yang mulai keluar dari pelupuk.
“Michi sudah sampai… Michi sudah di sekolah… Maaa… jangan takut…”
Sejenak Michi terdiam lagi. Geya mulai kalut… kini terdengar isakan dari tenggorokannya yang sedari tadi ditahannya.
“Michi… apa Michi… Michi kamu tidur ya… sudah… sudah… jangan bicara terus ya… Michi istirahat, dengar kata Mama ya… nanti sembuh Mama ajak ke sekolah, ya…” suara yang keluar bergabung dengan suara tertahan oleh tangis.
“Ma… jangan takut… Michi bisa sendirian… Mama boleh tinggalin Michi di kelas… Maaaaa… Michi masuk yaaa…”
Geya tak mampu berucap apa-apa sekarang ini. Dan Michi juga berhenti bicara. Geya mendengar hembusan nafas terakhir saat Michi memintanya meninggalkan Michi masuk ke ‘sekolah keabadiannya’.
Seandainya ia dapat berteriak, ia ingin meminta Tuhan mengembalikan Michi kembali padanya. Ingin dirinya memutar kembali dan mendeteksi semuanya sejak awal sehingga Michi tak perlu pergi dalam usia yang dini. Tetapi ia tak dapat berteriak, Geya tak dapat memberontak. Apakah karena ia dipengaruhi Michi yang sudah berani meminta Geya untuk meninggalkannya ‘sendirian’. Geya hanya dapat tertunduk terus ditemani para perawat yang sedaritadi sudah mendampinginya. Isak tangis yang terdengar semakin melemah akibat kurangnya tenaga untuk berkeluh kesah.
“Dokter… sabar ya… kami turut berdukacita…” kata suster Indah yang merangkul Geya yang masih menumbukkan kepalanya ke tubuh Michi yang sudah kaku. Tangan Geya yang terus menggenggam kuat jemari Michi perlahan-lahan mulai dilepaskan oleh para medis. Geya hanya dapat berdiri ketika diangkat oleh sanak keluarga yang mulai mengerubungi dirinya dan Michi. Dengan mata yang masih nanar melihat wajah Michi terdiam Geya pasrah jenazah Michi dibawa untuk disemayamkan. Di saat ini sangat dirindukannya pelukan Titus yang dulu hangat. Di saat ini sangat diinginkannya agar Titus menenangkannya seperti masa-masa dulu. Tetapi berharap seperti itu membuat Geya hanya menambah sakitnya. Titus yang terlebih dahulu meninggalkannya secara mental, dan kini Michi menyusulnya dalam jasmaninya.
*
Kertas putih lusuh itu sudah basah oleh keringat di tangan dingin Geya. Diremasnya tanpa ada rasa takut jika kertas tersebut menjadi lumat. Ia tak perduli isi kertas itu karena memang sudah mengetahuinya. Semua berisi keterangan kematian Michi, sekaligus penyebab serta semua kelalaian yang diakibatkan oleh dr. Sungkono dan tim dokter yang dipimpinnya. Lengkap dengan semua isi tuntutan yang diajukan dr. Titus, suaminya yang berada di sampingnya kini.
“Aku heran, kenapa kau terus membela dokter-dokter itu?? Michi itu anakmu! Yang harus kau bela itu adalah hak kita Geya…!” bentak Titus.
“Apa yang harus dibela Pa?? Kamu melakukan ini hanya emosi. Kamu sendiri tahu hasil lab memang tidak menunjukkan gejala apa-apa. Mereka bertindak sebagaimana adanya, aku kenal dokter Sungkono. Dia tidak mungkin sembarangan… Kita bukan orang awam, aku tidak mau kau kecewa dengan hasil keputusannya nanti, karena sebenarnya kau sudah tahu kalau tidak ada yang salah di sini…” tetapi sia-sia Geya berbicara jika Titus selalu bersikeras tidak menerima kenyataan yang ada.
Geya juga bukan ingin membela dokter, ia juga sadar Michi adalah anaknya. Tetapi rasanya ia memang harus memisahkan antara takdir dan pengetahuan, dua hal yang tidak mungkin disatukan. Lamunannya dikejutkan oleh suara ketokan palu Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia1) yang siap memvonis dr. Sungkono.
“Setelah dipelajari dan dipertimbangkan maka pihak Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia melihat bahwa pihak tim dokter yang dipimpin oleh dr. Sungkono memang tidak melihat gejala awal yang biasanya diderita oleh pasien demam berdarah pada umumnya. Keterlambatan penanganan itu disebabkan oleh tidak terdeteksinya penyakit yang sebenarnya. Jika ternyata terdapat gejala lanjut pada akhirnya harus diselamatkan walaupun terjadi keterlambatan yang menyebabkan pasien bernama Michi Suwiryo meninggal dunia. Dalam hal ini tim dokter yang diketuai oleh dr. Sungkono tidak bersalah karena tidak terlihat kelalaian secara administratif maupun diagnosa awal yang sudah diperiksa oleh laboratorium. Hanya saja kami dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia merekomendasikan agar pihak rumah sakit tidak membebankan dengan biaya kepada keluarga pasien yang dalam hal ini juga adalah dokter. Demikian keputusan ini dibacakan untuk diketahui oleh semua pihak yang bersangkutan,” ujar Hakim yang memimpin jalannya sidang.
Vonis yang tidak mengejutkan bagi Geya walaupun Titus terus bersikeras untuk tidak menerima keputusan MKDKI. Bagaimanapun jika hasil diagnosa yang didukung laboratorium pada akhirnya salah memang terlepas dari kuasa para dokter. Tidak ada hukum yang dapat menghukum takdir dan ketidaktahuan. Yang ada bukanlah kelalaian, hanya keterlambatan yang memang tidak diketahui penyebabnya.
Kepergian Michi diberitakan dalam berbagai surat keterangan dari keterangan laboratorium, surat kematian, dan juga surat pembebasan bagi para dokter yang menangani Michi. Rekapan yang diserahkan oleh pihak MKDKI kepadanya menjadi awal yang membuka ujian sesungguhnya sebagai dokter. Sebagai dokter yang trauma akibat mengetahui terlalu banyak atau terlalu sedikit akan jenis penyakit sehingga harus menyerah pada takdir.
“Semua ini membuat aku pedih. Saat aku merasa dapat membantu dengan ilmu ternyata hanyalah kesia-siaan. Jika aku harus menyelamatkan nyawa tetapi aku tak mampu melawan Dia yang merenggut nyawa. Ini menyesakkan karena akulah yang akan terus dipersalahkan, bukan Tuhan. Dan aku akan terus merasa bersalah, walaupun Tuhan berkata tak ada yang salah dengan takdir-Nya.” tulis Geya dalam jurnalnya.
1)MKDKI merupakan lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang dalam menjalankan tugasnya bersifat independent.
Tujuan penegakan disiplin adalah :
1. Memberikan perlindungan kepada pasien
2. Menjaga mutu dokter / dokter giri
3. Menjaga kehormatan profesi kedokteran / kedokteran gigi
MKDKI adalah lembaga yang berwenang untuk :
1. Menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi.
Menetapkan sanksi disiplin (Konsul Kedokteran Indonesia)
(Bab pertama selesai, bab kedua minggu depan ya)
Tags: novel, sang penyembuh



