Cerpen dimuat di Majalah Story, edisi 6, Desember 2009
Sinopsis dapat dilihat di tautan bawah ini
http://femikhirana.com/archives/897?utm_source=feedburner&utm_medium=email.
Cerpen dimuat di Majalah Story, edisi 6, Desember 2009
Sinopsis dapat dilihat di tautan bawah ini
http://femikhirana.com/archives/897?utm_source=feedburner&utm_medium=email.
Dua bulan sepeninggalan Michi, Geya bagaikan manusia abnormal yang dihantui oleh kegagalan. Kegagalan mempertahankan buah hatinya, sekaligus kegagalan mempertahankan profesinya. Ia memilih untuk menerimanya.
“Mungkin mengerti akan keadaan yang ada tanpa harus bertanya-tanya ‘kenapa harus aku’ akan lebih baik… Pertanyaan tidak membawa orang mati untuk hidup kembali, pertanyaan akan berujung kepada penyalahan kepada takdir, dan itu berarti aku akan melawan Tuhan…” kata Geya dalam hati. Dan ia tidak mau melawan Tuhan. Sepahit getirnya hubungannya dengan Tuhan, Geya tetap memilih untuk takut pada-Nya.
Dua bulan waktu ia untuk menjadi sadar, sendiri. Read more…
Geya akan melonjak riang dan spontan mengucapkan,
“Wahhhh… kamu sudah besarrrr!” kepada tanaman-tanamannya yang berbuah. Atau bertanya-tanya,
“Ealahhh… kenapa daun kamu kok pada kering yaaa??” jika beberapa tanamannya ada gejala sakit. Geya akan semakin lama memandang hasil pertumbuhan bibit yang ditanamnya sebagai bentuk menjiwai tujuannya kelak untuk penduduk di desa ini.
Dipetiknya beberapa buah pare yang sudah matang. Selain akan dibuat sayur olehnya, ia teringat Paklik Darmo. Dengan labu kuning yang sudah dibelinya kemarin di pasar mingguan jika ditumis dengan pare akan menjadi makanan untuk menstabilkan kembali gula darah Paklik Darmo yang diabetes jika sedang kambuh. Diambilnya pare lebih banyak lagi untuk Paklik Darmo. Panen kecil-kecilan itu sangat memuaskan hatinya. Siang ini ia berencana akan memberikan pare dan labu itu kepada Paklik Darmo siang nanti. Read more…
Geya diselamatkan oleh penduduk saat mobilnya terbalik dan berguling-guling. Kakinya yang tergencet akhirnya patah. Ditemukan dalam kondisi tidak sadar dan akhirnya dibawa oleh mobil puskesmas yang dipanggil oleh penduduk. Lamat-lamat diingatnya ketika ia sadar, ia hanya dapat berteriak-teriak,
“Biarrr… sudah jangan tolong!! Biarkan aku mati! Kenapa kalian bawa aku di sini?? Di mana ini?? Lepaskan… aku mau mati saja… mati…!!” jerit Geya sambil menahan sakit kaki yang ternyata sudah dioperasi. Saat ia bangun baru disadari jika ia tidak dapat berjalan. Badannya lemas seketika hendak jatuh. Dan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Read more…
“Minggir…minggirrr….!!” seru seorang pemuda kepada kerumunan agar membuka jalan buat mereka. Mereka menerobos keluar pagar kayu. Diterjang begitu saja sampai hampir roboh. Dendy mengikuti langkah lebar mereka. Sambil setengah berlari Dendy berusaha terus tak melepaskan pandangan jejak tiga pemuda itu dan beberapa penduduk yang ikut berlarian menuju satu tujuan. Read more…