Cerpen : Balerina Resah

Author: fekhi  //  Category: cerita pendek

Cerpen dimuat di Majalah Story, edisi 6, Desember 2009

Sinopsis dapat dilihat di tautan bawah ini

http://femikhirana.com/archives/897?utm_source=feedburner&utm_medium=email.

Sang Penyembuh Bab 7 : Suratan Takdir Ketiga

Author: fekhi  //  Category: cerita bersambung
Dua bulan ia hidup dalam termenung. Dua bulan ia hidup dalam kesakitan hati. Dua bulan ia menolak semua takdir yang menghampirinya, namun ternyata ia memang bukan manusia yang mampu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ia mencoba bangkit kembali. Hidup harus dilalui jika memang belum saatnya untuk mati. Semua harus diawali kembali dengan bersahabat dengan mereka yang selama ini diasingkannya. Ia harus kembali bersahabat dengan jalan hidup yang diharapkan dapat berpihak kembali padanya.

Dua bulan sepeninggalan Michi, Geya bagaikan manusia abnormal yang dihantui oleh kegagalan. Kegagalan mempertahankan buah hatinya, sekaligus kegagalan mempertahankan profesinya. Ia memilih untuk menerimanya.

“Mungkin mengerti akan keadaan yang ada tanpa harus bertanya-tanya ‘kenapa harus aku’ akan lebih baik… Pertanyaan tidak membawa orang mati untuk hidup kembali, pertanyaan akan berujung kepada penyalahan kepada takdir, dan itu berarti aku akan melawan Tuhan…” kata Geya dalam hati. Dan ia tidak mau melawan Tuhan. Sepahit getirnya hubungannya dengan Tuhan, Geya tetap memilih untuk takut pada-Nya.
Dua bulan waktu ia untuk menjadi sadar, sendiri. Read more…

Sang Penyembuh Bab 6 : Perseteruan (Menyibak Trauma 2)

Author: fekhi  //  Category: cerita bersambung
Bila ia dulu sering menganggap orang yang berbicara dengan tanaman adalah orang yang rada gila, ternyata sekarang dilakoninya. Ternyata mengasyikan. Sejak Geya mencoba berkebun, ia hanya berharap mengisi waktu luang, lagipula ia tidak memiliki penghasilan, dengan berkebun ia tidak harus berbelanja terlalu banyak. Namun sejak tekadnya bulat untuk membuat apotek hidup, ia semakin getol menanam apa yang bermanfaat kelak.

Geya akan melonjak riang dan spontan mengucapkan,
“Wahhhh… kamu sudah besarrrr!” kepada tanaman-tanamannya yang berbuah. Atau bertanya-tanya,
“Ealahhh… kenapa daun kamu kok pada kering yaaa??” jika beberapa tanamannya ada gejala sakit. Geya akan semakin lama memandang hasil pertumbuhan bibit yang ditanamnya sebagai bentuk menjiwai tujuannya kelak untuk penduduk di desa ini.

Dipetiknya beberapa buah pare yang sudah matang. Selain akan dibuat sayur olehnya, ia teringat Paklik Darmo. Dengan labu kuning yang sudah dibelinya kemarin di pasar mingguan jika ditumis dengan pare akan menjadi makanan untuk menstabilkan kembali gula darah Paklik Darmo yang diabetes jika sedang kambuh. Diambilnya pare lebih banyak lagi untuk Paklik Darmo. Panen kecil-kecilan itu sangat memuaskan hatinya. Siang ini ia berencana akan memberikan pare dan labu itu kepada Paklik Darmo siang nanti. Read more…

Sang Penyembuh : Bab 5 Menyibak Trauma

Author: fekhi  //  Category: cerita bersambung
Sudah bulan ketiga di mana Geya tinggal di desa Tulung Harapan. Luka-luka yang dideritanya sudah semakin jauh membaik. Jalannya sudah tidak terpincang-pincang. Para penduduk sekitar yang senantiasa merawatnya agar sembuh dari kecelakaan kendaraan yang hampir merenggut nyawanya. Termasuk juga dokter Hendra yang ada di desa itu tak pernah letih menunggunya.

Geya diselamatkan oleh penduduk saat mobilnya terbalik dan berguling-guling. Kakinya yang tergencet akhirnya patah. Ditemukan dalam kondisi tidak sadar dan akhirnya dibawa oleh mobil puskesmas yang dipanggil oleh penduduk. Lamat-lamat diingatnya ketika ia sadar, ia hanya dapat berteriak-teriak,

“Biarrr… sudah jangan tolong!! Biarkan aku mati! Kenapa kalian bawa aku di sini?? Di mana ini?? Lepaskan… aku mau mati saja… mati…!!” jerit Geya sambil menahan sakit kaki yang ternyata sudah dioperasi. Saat ia bangun baru disadari jika ia tidak dapat berjalan. Badannya lemas seketika hendak jatuh. Dan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Read more…

Sang Penyembuh Bab 4 : Dukun Tanpa Mantera

Author: fekhi  //  Category: cerita bersambung
BAB 4
DUKUN TANPA MANTERA
Dendy menyeruak kerumunan massa di desa Tulung Harapan, desa transmigrasi di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Segerombolan penduduk yang berkumpul di rumah Pak Trisno, pekerja tani yang cukup dikenalnya. Dilihat dari kejauhan seorang anak perempuan, bertubuh kurus dan kecil, digendong oleh beberapa pemuda berbadan cukup tinggi dan besar. Gadis kecil itu menggigil, kelihatan dari gemeletuk giginya yang saling bertabrakan atas bawah. Bibirnya tak dapat dikatupkan akibat getaran suhu tubuhnya.

“Minggir…minggirrr….!!” seru seorang pemuda kepada kerumunan agar membuka jalan buat mereka. Mereka menerobos keluar pagar kayu. Diterjang begitu saja sampai hampir roboh. Dendy mengikuti langkah lebar mereka. Sambil setengah berlari Dendy berusaha terus tak melepaskan pandangan jejak tiga pemuda itu dan beberapa penduduk yang ikut berlarian menuju satu tujuan. Read more…

web design company Topamax online buy Femara capital online revenue marketing news global online pharmacy online pharmacy Canada online Canada drugs